Kamis, 17 September 2015

Basmalah bukanlah bagian dari Al Fatihah



Basmalah bukanlah bagian dari Al Fatihah 

Penjelasan oleh Fadhilatusysyaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahuta’ala.

Basmalah bukanlah bagian dari Al Fatihah. Akan tetapi ayat yang berdiri sendiri dimana basmalah sebagai pembuka setiap surat kecuali surat Barooah (At Taubah). Dalam surat tersebut tidak ada basmalah karena ijtihad dari para sabahat. Akan tetapi perlu digaris bawah bahwa ijtihad para sahabat ini tidak diragukan lagi ijtihad yang berdasarkan dalil syari’at (tauqiif). Karena kita semua mengetahui kalau seandainya terdapat basmalah antara surat Al Anfal dengan surat Barooah (surat 
 At-Taubah) maka tentu basmalah tersebut tetap ada. Karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang akan menjaganya.” (QS. Al Hajr: 9)

Tatkala basmalah tersebut tidak terdapat di permulaan surat Barooah maka jelaslah bahwa ijtihad para sahabat tersebut sesuai dengan kenyataan.
Diantara dalil yang menunjukkan bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah adalah hadits shahih, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ : {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللهُ تَعَالَى : حَمِدَنِي عَبْدِي

“Allah Ta’ala berfirman, ‘ Aku membagi amalan shalat antara Aku dengan hambaKu dua bagian. Ketika hambaku berkata,’Alhamdulillahi robbil’aalamiin’. Allah Ta’ala berkata, ‘ Hambaku telah memujiKu.’” ( Hadits riwayat Muslim di Kitab Shalat bab Wajibnya membaca Al Fatihah ditiap raka’at (395) dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu)

Bila ada yang berkata: Jika basmalah itu bukan bagian dari Al- Fatihah sementara diketahui bahwa surat Al-Fatihah itu ada 7ayat lalu bagaimana tujuh ayat dalam Fatihah tersebut dibagi dengan meniadakan basmalah?
Jawab: Al-Fatihah dibagi sebagaimana rincian berikut ini:
Alhamdulillahi robbil’aalamin –ayat pertama
Arrohmaanirrohiim –ayat kedua
Maalikiyaumiddin-ayat ketiga
Iyyakana’budu waiyyaka nasta’iin –ayat keempat
Ihdinashshirootholmustaqiim –ayat kelima
Sirootholladzinaan’amta ‘ailaihim –ayat keenam
Ghairilmaghduubi’alaihim waladhdhoollliin –ayat ketujuh
Pembagian ini sesuai dengan kandungan makna dan lafadz.
Adapun kesesuaian pembagian ini dengan lafadz: karena jika kita bagi al fatihah dengan metode ini maka ayat satu dengan yang lain lebih seimbang dan berdekatan.
Akan tetapi jika kita bagi:
Ihdinashshirootholmustaqiim- ayat keenam
Sirootholladzinaan’amta ‘alaihim Ghairilmaghduubi’alaihim waladhdhoollliin –ayat ketujuh
Maka ayat ketujuh ini akan menjadi sangat panjang dan tidak seimbang dengan ayat sebelumnya. Inilah yang dimaskud dengan kesesuaian lafadz
Adapun yang dimaksud dengan kesesuain maknawi:
Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman (dalam hadits qudsi), “Aku membagi sholat antara Aku dg hambaKu menjadi dua bagian. Untuk hambaku apa yang ia minta. Jika ia berkata, ‘Alhamdulillahirobbil’aalamiin’ Allah Ta’ala berkata, ‘hambaku telah memujiku’ jika ia berkata, ‘arrohmaanirrohiim’ Allah Ta’ala menjawab, ‘Hambaku telah menyanjungKu’ Bila ia berkata ,’maalikiyaumiddiin’ Allah Ta’ala menjawab, ‘Hambaku telah memuliakanKu’”. Maka ketiga ayat ini semuanya untuk Allah.
Lalu jika hamba tersebut berkata, ‘iyyakana’budu waiyyaka nasta’iin’ maka Allah Ta’ala berkata, ‘ini antara diriKu dan hambaKu dan untuk hambaKu apa yang ia minta’
Dengan demikian ayat ‘iyyaka na’budu waiyyaka nasta’iin’ menjadi yang keempat.
Adapun yang kelima, keenam dan yang ketujuh
Ihdinashshirootholmustaqiim. Sirootholladzinaan’amta ‘alaihim Ghairilmaghduubi’alaihim waladhdhoollliin
Sehingga ketiga ayat yang pertama adalah untuk Allah. Adapun ketiga ayat yang terakhir adalah untuk hamba. Sementara ayat ‘iyyakana’budu waiyyaka nasta’iin’ adalah ayat pertengahan antara hamba dengan Rabbnya.
Jika ada yang berkata lagi, “Jika engkau mengatakan seperti itu lalu bagaimana jawaban tentang apa yang kita temui di mushhaf bahwa ayat pertama disurat Al-Fatihah adalah basmalah?”
Jawab: penomoran ayat ini didasarkan pada pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Oleh karena itu di surat lainnya basmalah tidak dihitung bagian dari surat dan juga tidak diberi nomor ayat. Dan pendapat yang benar, basmalah bukanlah bagian dari surat Al-Fatihah maupun surat-surat lainnya. Akan tetapi ia adalah ayat yang berdiri sendiri.
Jika ada yang berkata lagi, ‘ Engkau katakan basmalah adalah ayat yang berdiri sendiri. Sementara kami dapati dalam Al-Qur’an ayat basmalah terdapat dalam satu ayat. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala,

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman. Yang isinya, ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’“(QS. An Naml: 30)

Kita jawab: Ayat ini sekedar menceritakan dan mengkhabarkan tentang surat yang berasal dari Sulaiman. Dan orang yang membaca ayat ini tidak akan berpikiran bahwa ia akan memulai suatu muqoddimah dengan basmalah ini. Akan tetapi basmalah dalam ayat tersebut adalah muqoddimah kitab yang ditulis Sulaiman ‘alaihissalam dan Allah menukilkannya untuk kita. Dan ini bukanlah termasuk perkara yang sedang kita bicarakan.
***
Muslimah.Or.Id
Sumber: Asysyarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ (3/77), Muassasah Aasam Riyadh.
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Muslimah.or.id

CARA MENGHITUNG TINGKAT PERTUMBUHAN EKONOMI



CARA MENGHITUNG TINGKAT PERTUMBUHAN 

Perhitungan pendapatan nasional secara ini memungkinkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara langsung di hitung dari data pendapatan nasional rill yang tersedia. Formula yang akan digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi ialah :
g = (PN rill1- PN rill 0)/(PN rill0 )
dimana g         = tingkat pertumbuhan ekonomi
           PNriil1 = pendapatan nasional untuk tahun dimana tingkat pertumbuhan ekonominya                           dihitung.
           PNriil0 = pendapatan nasional pada tahun berikutnya

untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi perhitungan harus dilakukan dengan dua cara yaitu :
PNrilla = 100/HIa x PN masa ini
dimana HIa = indeks harga atau pendeflasi pendapatan nasional (GNP deflator )
            PN  = pendapatan nasional

 contoh soal :
Pada tahun 2007 pendapatan nasional rill adalah Rp 150,2 triliun sedangkan pada tahun 2008 nilai nya telah meningkatkan kepada Rp 158,8 triliun. Dengan demikian tingkat pertumbuhan yang dicapai Negara itu adalah :
g2007 = (158,8-150,2 )/150,2 x 100 = 5.7 persen

contoh soal :
pada tahun 2002 produk domestic bruto menurut harga yang berlaku Rp 198,4 triliun dan pada tahun 2003 nilainya telah menjadi Rp 224,7 triliun, indeks harga tahun 2002 adalah 152 dan dalam tahun 2003 harganya 160 . dengan data seperti terlebih dahulu harus dihitung pendapatan nasional rill tahun 2003, yaitu :
PN – rill2003 = 152/160 x Rp 224,7 triliun = 213,4 triliun
Dengan demikian sekarang kita telah dapat menghitung tingkat ekonomi pada tahun 2003 :
Tingkat pertumbuhan eko
Konsep pendapatan nasional
- PNB/GNP (Produk Nasional Bruto/Gross Nasional Product)
PNB adalah seluruh nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu Negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun, termasuk didalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat Negara tersebut yang berada di luar negeri.
Rumus
GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri
- NNP (Net National Product)
NNP adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat dalam periode tertentu, setelah dikurangi penyusutan (depresiasi) dan barang pengganti modal.
Rumus :
NNP = GNP – Penyusutan
- NNI (Net National Income)
NNI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima oleh masyarakat setelah dikurangi pajak tidak langsung (indirect tax)
Rumus :
NNI = NNP – Pajak tidak langsung
- PI (Personal Income)
PI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima masyarakat yang benar-benar sampai ke tangan masyarakat setelah dikurangi oleh laba ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan social, pajak perseorangan dan ditambah dengan transfer payment.
Rumus :
PI = (NNI + transfer payment) – (Laba ditahan + Iuran asuransi + Iuran jaminan social + Pajak perseorangan )
- DI (Disposible Income)
DI adalah pendapatan yang diterima masyarakat yang sudah siap dibelanjakan oleh penerimanya.
Rumus :
DI = PI – Pajak langsung
 Perhitungan Pendapatan Nasional

a.       Metode Produksi
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sector ekonomi masyarakat dalam periode tertentu
Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]
b.      Metode Pendapatan
Pendapatan nasional merupakan hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent, wage, interest, profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam suatu negara selama satu periode.
Y = r + w + i + p
c.       Metode Pengeluaran
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga ekonomi (RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu tahun.
Y = C + I + G + (X – M)
nomi = (213,4-198,4)/198,4 x 100 = 7,5 persen

" Cincin taat Nabi Sulaiman "



CINCIN NABI SULAIMAN
" Cincin taat Nabi Sulaiman "
 Wahab bin Munabih mengatakan bahwa cincin Nabi Sulaiman dikenal dengan nama " Cincin taat Nabi Sulaiman "  yang di ciptakan Allah dari cahaya yang bersinar sangat terang yang cahayanya mengalahkan setiap cahaya berasal dari langit yang memiliki empat sisi diantara sisinya tertulis kata " Laa ilaha ilallah Wahdahu laa syarikalahu Muhammadan abduhu wa rasuluhu " Artinya : Tidak ada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu baginya, Muhammad adalah hamba dan rasulnya.

Pada sisi kedua tertulis " Allahumma malikal mulki tu'til mulka man tasya wa tanzi'ul mulka man tasya wa tu'izu man tasya wa tuzilu man tasya " Wahai Allah raja yang memiliki kerajaan, engkau berikan kekuasaan kepada yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki " Pada sisi ketiga tertulis " Kullu syai'in haalikun illallah " Artinya : Segala sesuatu akan musnah kecuali Allah. .

Dan pada sisi keempat tertulis " Tabarokta ilahiy laa syariika laka " Artinya : Maha suci engkau wahai Tuahanku yang tidak ada sekutu bagimu. Cincin tersebut memiliki cahaya yang bersinar yang apabila dikenakan maka akan berkumpul para jin, manusia, burung, angin, setan dan awan.di mana angin sebagai kendaraannya, Manusian dan Jin sebagai bala tentaranya, Burung sebagai pembantu dan teman bicaranya , Binatang buas sebagai pekerjanya, dan para Malaikat sebagai utusannya. 
Beliau pernah berdoa kepada Allah meminta kerajaan yang tidak pernah ada yang menyamai setelahnya. sebagaimana firman Allah Swt : “  ia ( Sulaiman ) berkata: “ Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi ” ( Q.S Shaad : 35 ) 
Adapun wasiat dan nasehat nabi Sulaiman As kepada umatnya “ Dasar bagi kehidupan yang aman dan bahagia terletak dalam iman kepada Allah. Hidup manusia hanya dapat dipahami dalam hubungan dengan khaliknya, karena Allah adalah pusat kehidupan itu sendiri. Mulut orang benar adalah mata air kehidupan, tetapi kekerasan meluap dari mulut orang fasik.Tangan yang malas akan membuat miskin, tetapi tangan yang rajin menjadikan kaya.  
Lebih baik sedikit dengan kebenaran, daripada banyak dengan ketidakadilan. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang lebah,manis bagi jiwa dan menyembuhkan tubuh. Hati yang bergembira adalah obat yang baik,tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Berkah ada diatas kepala orang benar, tetapi kekerasan meluap dari mulut orang fasik.
Orang bijaksana menimbun pengetahuan,tetapi mulut orang bodoh dekat pada kehancuran. Buah orang benar adalah pohon kehidupan, dan bijaksanalah orang yang memenangkan hati orang lain. Jauhilah orang bodoh karena pada bibirnya tak kau temukan pengetahuan, Serahkanlah segala perbuatanmu kepada Allah, maka rencanamu akan teguh “ .